Next
Previous

Rabu, 05 Juni 2013

0
undefined undefined undefined

Pengertian Radiologi & Radioterapi

Posted in
Radiobiologi merupakan studi tentang efek radiasi pada sel-sel hidup dan organisme (termasuk, namun tidak terbatas pada, efeknya terhadap tubuh manusia). Misalnya, satu bidang radiobiologi mempelajari efek radiasi pada sel kanker, yang memiliki aplikasi penting dalam memperbaiki dan meningkatkan pengembangan teknik radioterapi untuk mengobati tumor ganas.

Dasar Radiobiologi dalam Radioterapi

Prinsip metode multifraksi yang umum dipakai dalam radioterapi konvensional pertama kali berdasarkan pada penelitian radiobiologi yang dilakukan di Paris pada tahun 1920-an. Dari penelitian ini diketahui bahwa seekor domba tidak dapat disterilisasi hanya dengan memberikan satu dosis radiasi pada testisnya tanpa disertai dengan kerusakan pada kulit skrotum. Tetapi bila testis diradiasi dengan cara fraksinasi (dosis terbagi), sterilisasi dapat terjadi tanpa disertai dengan kerusakan pada kulit. tidak terbatas pada, efeknya terhadap tubuh manusia). Misalnya, satu bidang radiobiologi mempelajari efek radiasi pada sel kanker, yang memiliki aplikasi penting dalam memperbaiki dan meningkatkan pengembangan teknik radioterapi untuk mengobati tumor ganas.


sumber : http://alat2kesehatan.com/pengertian-radiologi-radioterapi.php
0
undefined undefined undefined

Teknik Radiografi Skull (Mastoid : Proyeksi Axiolateral Schuller Method)

Posted in
Patologi yang ditampakkan
Proyeksi ini menampakkan beberapa kelainan pada processus mastoideus. kedua sisi diperiksa sebagai perbandingan.

Persiapan Alat
• Pesawat Sinar-X
• Kaset dan Film 18 x 24
• Marker
• Lysolm
• Gonad shield
Persiapan Pasien
Instruksikan pasien untuk melepaskan benda-benda logam pada daerah kepala

Posisi Pasien
Semiprone

Posisi Obyek
• Atur MSP sejajar dengan meja/permukaan bucky
• Atur interpupilary line tegak lurus terhadap meja/permukaan bucky
• Lipat daun telinga yang terdekat dengan IR
• Pastikan tidak ada rotasi ataupun tilting



Central Ray
250 ke Caudal

Central Point
1½ (4 cm) inci superior dan 1½ (4 cm) posterior MAE

FFD
40 inci (100 cm)
Tahan nafas saat eksposi

Struktur yang ditampakkan
Tampak Os mastoid yang dekat dengan kaset

 
sumber :  http://siavent.blogspot.com/2010/01/teknik-radiografi-skull-mastoid.html
0
undefined undefined undefined

Teknik Radiografi Skull (Proyeksi AP Axial Towne Method)

Posted in
Patologi yang ditampakkan
Pada pemeriksaan sella tursika metode ini dilakukan untuk menunjukkan adanya pituitary adenomas.

Persiapan Pasien
Lepaskan semua bahan logam, plastik, dan benda-benda lain yang dapat mengganggu gambaran pada daerah kepala

Persiapan Alat
• Pesawat Sinar-X
• Kaset dan Film 24 x 30
• Marker
• Lysolm
• Gonad shield
• Alat fiksasi

Posisi Pasien
Supine atau erect

Posisi Obyek
• Atur bagian kepala posterior menempel meja/permukaan bucky
• Fleksikan leher agar IOML tegak lurus IR
• Atur MSP tegak lurus midline grid atau meja/permukaan bucky



Central Ray
• 30 derajat ke caudad apabila OML tegak lurus IR
• 37 derajat ke caudad apabila IOML tegak lurus IR


Central Point
1,5 inchi (4 cm) superior glabella

FFD
40 inci (100)
Tahan nafas saat eksposi

Struktur yang ditampakkan
• 37 derajat : dorsum sella dan posterior clinoid process tampak berada pada foramen magnum.
• 30 derajat : anterior clinoid tampak dengan jelas, jauh dari kedua petrous ridge, berada diatas foramen magnum, dorsum sellae tampak diatas foramen magnum, superimposisi dengan occipital bone

 
sumber :  http://siavent.blogspot.com/2010/01/teknik-radiografi-skull-proyeksi-ap.html
0
undefined undefined undefined

Teknik Radiografi Skull (Nasal Bone : Proyeksi Lateral)

Posted in
Persiapan Alat
• Pesawat Sinar-X
• Kaset dan Film 18 x 24
• Marker
• Lysolm
• Gonad shield
• Alat fiksasi

Persiapan Pasien
Lepaskan semua bahan logam, plastik, dan benda-benda lain yang dapat mengganggu gambaran pada daerah kepala

Patologi yang ditampakkan
Fraktur nasal bone. Dapat Dibuat foto perbandingan dengan sisi yang diperiksa berada dekat dengan IR.

Posisi Pasien
Prone atau Erect

Posisi Obyek
• Atur sisi lateral bagian yang akan diperiksa dekat dengan IR
• Atur nasal agar berada ditengah-tengah IR
• Atur kepala agar true lateral dan posisi tubuh pasien agak oblique agar pasien merasa nyaman
• Atur MSP sejajar terhadap permukaan meja/bucky.
• IOML tegak lurus terhadap IR



Central Ray
Tegak lurus terhadap IR
Central Point
½ inchi inferior nasion

FFD
40 inci (100 cm)
Tahan nafas saat eksposi. Untuk memperoleh hasil yang tajam, khususnya untuk detail tulang nasal yang lebih baik, gunakan fokus kecil, detail screen, dan batasi lapangan penyinaran (focus daerah nasal)

Struktur Yang Ditampakkan
Tulang nasal dengan soft tissue nasal, frontonasal suture, dan anterior nasal spine




sumber : http://siavent.blogspot.com/2010/01/teknik-radiografi-skull-nasal-bone.html
1
undefined undefined undefined

TEKNIK PENYIMPANAN FILM

Posted in
1.    Syarat  penyimpanan film secara umum
a.    Suhu ruangan ± 13°C
b.    Kelembaban maksimal 50 % dalam keadaan dingin dan kering
c.    Terlindung dari radiasi
d.    Jauh dari bahan kimia
e.    Tidak terjadi tekanan mekanis antara boks film
2.    Syarat penyimpana film digudang
a.    Udara dingin dan kering
b.    Sirkulasi udara cukup
c.    Film harus disimpan menurut expire date
d.    Temperature 20°C (menggunakan pendingin)
3.    Syarat penyimpanan film di kamar gelap
a.    Harus disimpan dimeja yang kering
b.    Box dibuka dalam keadaan gelap
c.    Disimpan tegak (Vertikal)
d.    Box selalu dalam keadaan tertutup
4.    Syarat menyimpan film dikamar pemeriksaan
a.    Film berada dalam kaset
b.    Jauh dari sumber radiasi
c.    Terpisah antara kaset yang sudah di ekspos dan belum di ekspos
Penyebab jika tidak memenuhi syarat :
*   FOG level akan meninggi atau membesar
*   Sensitivitasnya akan menurun
*   Kontras menurun
KAMAR GELAP ( Dark room) merupakan area prosessing di dalamnya terdapat safe light dan dekat dari kamar pemeriksaan.Kontruksi kamar gelap
1.        Ukuran kamar gelap untuk yang kecil 10M² atau 2mX5m dibuat memanjang,
2.        Tinggi dari lantai ke langit-langi  2,75m
3.        Lantai yang awet,tahan lama,dan tidak mudah keropos.lantainya mudah dibersihkan,tidak licin,dapat menyerap air dan tahan terhadap cairan kimia.
4.        Dindingnya di cat dengan warna cerah ,tidak mudah koros,dan di cat dengan bahan yang tidak mudah terkelupas.
5.        Temperature kamar gelap 20°C dan kelembaban 50 %
6.         a.    Dindingnya dilapisi Pb 2mm
 b.   Dindingnya dilapisi Barium Sulfat dengan perbandingan 2 : 1 dan    diplester dengan ketebalan 2mm.2 untuk Barium dan 1 untuk semenya.
 c.  Jika dindinya hanya menggunakan batu maka ketebalan batu batanya   225mm
 d.  Dindingya dari beton dengan ketebalan 150mm atau 15cm
 e.  Bisa menggunakan papan dengan dilapisi Pb 2mm
 f.   Dindingya bias menggunakan batu bata 1/2 dengan di plester barium 2.5cm
FASILITAS KAMAR GELAP
1.        Penerangan
Umum               : putih
Khusus              : safe light (merah)
Tujuannya         :  1. Agar dapat melihat bagus tidaknya kaset atau IS
                                    2. Bisa dilihat agar dapat dibersihkan
2.        Meja kerja :        1.Meja kering gunanya untuk tempat rak kaset dan film   hopper.
                         2.Meja basa gunanya sebagai tempat tangki processing.
3.    Tempat film
4.    Label printer
5.    Cassette Hatch
6.    Hanger dan pengering

SENSITOMETRY
            Sensitometry adalah cara yang digunakan untuk melihat respon film terhadap sejumlah cahaya yang diberikan pada film,pada kondisi dan pengolahan tertentu. satuan dari
·           Cahaya                             : erg/cm
·           Sinar-x                              : R/ cm²
Kegunaan dari sensitometry menurut Hodgson tahun 1917
1)        Untuk mencari sensitivitas
2)        Kontras
3)        Sensitivitas dan kontras dengan panjang gelombang
4)        Karakteristik pembangkitan
5)        Karakteristik fluorescent screen
Bahan dari film rontgen :
·           Sensitometer
·           Densitometer
·           Processing
Densitometer ( alat untuk mengukur densitas )
Densitometry ( cara untuk mengukur densitas )
Jenis-jenis sensitometry menurut D.P.Robert (1988)
1)   Time scale sensitometry
Merupakan cara yang paling simpel karena yang diubah waktu ekspos dan sekenya yang lain tetap.variasi sekenya 8 kali,makin banyak makin bagus hasil yang didapatkan.kendala yang ditemuka yaitu perubahan waktu eksposi di pesawatnya tidak beraturan.
2)   Intensity scale sensitometry
Yang divariasi hanya mA dan yang lainnya tetap
3)   Step wedge atau Penetrometer
            Terbuat dari Aluminium yang dibikin secara bertingkat dan memiliki jumlah step 11 dan 21.densitasnya berbeda dari satu step ke step lainnya.


4)   Sensitometry elektrik
Metode yang palin gampang kerena prosesnya cuma 1kali dan film yang digunakan sedikit.kekuranganya yaitu gambar yang dihasilkan biasanya tidak maksimal.
Jenis-jenis sensitometry menurut J.Ball
·      Time scale sensitometry
·      Intensity scale sensitometry
·      X-ray eksposure
·      Ligh exposure
Seri eksposi sensitometry ada 2 metode
1)   Time scale sensitometry
  Pada metode ini tegangan tabung (kV),arus tabung (mA) tetap yang diubah waktunya (S).
*   Tegangan tabung (kV),arus tabung ( mA),dan jarak (FFD) tetap
*   Waktu eksposi selalu divariasi.
*   Dilakukan 11 kali eksposi yang diperlukan untuk membuat plot titik pada kurva karakteristik sehingga di dapatkan grafik yang baik
KEUNTUNGAN :
*        Diketahui waktunya
*        Memungkinkan film dengan densitas yang rendah pada saat masuk pada prosessor terjadi “Reducing Bromide Drag “sehingga mengurangi terjadinya streak artefak pada film
KERUGIAN :
*        Eksposi dilakukan secara kontinyu dimulai dengan 0.1s dan dilanjutkan dengan 0.2,0.4,0.8,1.6,3.2,6.4,12.8,25.6,51.2,102.4 diperlukan timer khusu pada meja sinar-x
*        Kesalahan perulangan “reciptocity failure” sebesar 0,01 s
*        Pengujian ini yang terpenting adalah waktu yang diperlukan untuk pembentukan kurva
2)   Intensity scale sensitometry
·      Dengan menggunakan step wedge/penetrometer
·      Dengan sensitometer
Pada intensity scale sensitometer ada tiga cara yaitu :
1.    Dengan x-ray dengan variasi intensitas sebagai berikut.
Ø Tegangan tabung (kV) dan jarak (FFD) konstan
Ø Variasi nilai arus tabung  ( waktu (s) tetap, variasi arus tabung / mA).
Ø Biasanya dibentuk oleh variasi tinggi tabung (tube) dalam kaitan antara film dengan hukum kuadarat jarak terbalik (inverse square law)
Ø Membutuhkan  ketelitian/akurasi pada pengontrol sinar-X (X-ray set), perhitungan dan pengukuran.
2.    Dengan menggunakan step wedge
Ø Disiapkan stepwedge/penetrometer
Ø Dieksposi dengan cara menempatkan stepwedge dan  tercover keseluruhan bagian dari stepwedge
Ø Faktor eksposi yang meliputi tegangan tabung (kV), arus tabung dan waktu (mAs)  disesuaikan dengan kombinasi film-screen yang digunakan.
Ø Hasil pengukuran densitas dengan menggunakan densitometer dicatat dan plotting kurva
Keuntungan
Ø Penetrometer dapat membuat sejumlah step, sehingga kurva karakteristik yang didapat bisa lebih akurat
Ø Penetrometer dapat digunakan kembali
Ø  Ini dapat digunakan pada kombinasi screen film yang berbeda
Ø  Waktunya diketahui
Ø   Memungkinkan memproses film dengan  densitas rendah masuk pertama kali pada processor.
Kerugian
Kurva karakteristik film yang dihasilkan hanya untuk tegangan tabung (kV) tertentu.



RADIOGRAFI
Bagian kiri dari garis kaki amabang pintu dank abut basis dasar.
Kabut basis dasar  :  Kepadatan dasar yang direkam, dimana warna biru (sebagai contoh), kepadatan lebih yang direkam kabut yang bersifat kimia yang mungkin mempunyai emulsi penuh selama penyimpanan, pengolahan dan lain – lain.
Tiga pokok penyebab kesalahan fog
a.    Kesalahan itu dapat terjadi di tempat penyimpanan
b.    Kesalahan dari pabrik kamar gelap
c.    Kesalahan selama prosessing
Basis fog < = 0,11 (densitas base) + 0,11(fog)
v Kesalahan penyimpanan
a.       Terlalu lama dipenyimpanan
b.      Temperatur yang tinggi
c.       Kelembapan yang tinggi
d.      Film disimpan secara horizontal
e.       Tingginya radiasi disekitar
f.        Radiasi terpencar
v Kesalahan di kamar gelap
a.       Safelight yang tidak cocok
b.      Penggunaannya memerlukan waktu yang lama
c.       Terlalu banyak safelight
d.      Safelight yang tertutup
e.       Safelight yang terlalu terang
f.        Safelight yang retak/rusak
g.       Cahaya yang masuk
v Kesalahan prosessing
a.       Kelebihan cairan replenishment
b.      Temperature developer tinggi
c.       Waktu yang lama di prossesing
d.      Kontaminasi
e.       Temperatur di fixer terlalu dingin
f.        Waktu yang pendek di fixer
g.       Fixer kekurangan cairan replenisment
Posisi garis lurus /sebenarnya
Informasi dari proses garis lurus
*   Gamma, kontras,peningkatan rata – rata, jangkauan ketebalan yang bermanfaat , film latitude/garis lintang film, jangkauan terbuka yang bermanfaat,kecepatan.
 

0
undefined undefined undefined

Ditemukan Radioterapi Kanker tanpa Efek Samping

Posted in
Ditemukan Radioterapi Kanker tanpa Efek Samping
Periset University of Missouri, M. Frederick Hawthorne dan timnya mengembangkan terapi kanker tanpa efek samping. Natureworldnews.com

Grafis Terkait

Topik

  • #Ilmu Pengetahuan dan Teknologi | Iptek
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO, Missouri - Selama ini pasien kanker mengalami efek samping saat harus melakukan radioterapi. Efek samping tersebut di antaranya rontoknya rambut atau rasa sakit lainnya. Untuk mengatasi hal tersebut, ilmuwan kini mengembangkan terapi radiasi baru yang tidak menimbulkan efek-efek samping.

Studi yang dilakukan ilmuwan dari University of Missouri itu telah sukses melakukan uji coba membunuh sel-sel kanker pada tikus tanpa efek samping. Berikutnya, radioterapi itu akan diuji coba pada manusia.

Efek samping radioterapi terjadi karena terapi itu juga merusak sejumlah sel-sel sehat sebagaimana dia juga merusak sel-sel kanker. Efek samping yang umum terjadi di antaranya kerontokan rambut, diare, mual, dan sakit kulit.

Sebagai contoh, folikel rambut akan rusak selama radioterapi. Sebab, sebagaimana sel-sel kanker, folikel rambut dibuat dari sel-sel yang tumbuh dengan cepat. Nah, sel-sel kanker diketahui memang tumbuh lebih cepat dibanding sel-sel normal. Sebab, dalam prosesnya dia menyerap lebih banyak material dibanding sel-sel normal dan haus akan oksigen.

Dalam studinya, tim peneliti yang dipimpin Profesor M. Frederick Hawthorne ini memanfaatkan sel-sel penyerap itu dengan memaksa mereka menerima zat kimia boron yang direkayasa secara khusus.

Pada tanaman, jumlah boron yang sedikit berperan untuk menguatkan dinding dan zat ini kerap ditemukan di tanah. Tim peneliti mendapatkan sel-sel kanker dan menyimpannya dalam zat kimia boron yang didesain Hawthorne.

Ketika boron yang dimasukan ke sel-sel kanker itu terkena paparan neutron, yang terjadi adalah atom boron memecah dan secara selektif memisah antara sel-sel kanker dengan sel-sel normal. Cara ini menghindari terjadinya efek samping.

Sejak tahun 1930-an, ilmuwan telah berusaha dengan pengobatan kanker yang dikenal sebagai boron neutron capture therapy (BNCT). "Tim kami akhirnya menemukan cara membuat BNCT bekerja dengan mengambil manfaat biologi sel kanker dengan nanokimia," kata Hawthorne seperti diberitakan Daily Mail, Kamis, 4 April 2013. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal The Proceedings of the National Academy of Science.

"Banyak variasi kanker yang bisa diserang dengan teknik BNCT. Teknik ini bekerja dengan cemerlang pada tikus. Kami siap melanjutkan uji coba pada hewan yang lebih besar, kemudian manusia," kata dia.

Profesor Hawthorne adalah ilmuwan yang dihormati dibidangnya. Baru-baru ini dia diganjar dengan penghargaan prestisius oleh Presiden Obama berupa National Medal of Science Award. Ini adalah penghargaan tertinggi yang diberikan pada ilmuwan.


sumber :  http://www.tempo.co/read/news/2013/04/05/061471368/Ditemukan-Radioterapi-Kanker-tanpa-Efek-Samping

Senin, 27 Mei 2013

0
undefined undefined undefined
Posted in

Kualitas Citra Radiografi (Foto Rontgen)


       Telah diketahui bahwa terbentuknya citra radiografi adalah disebabkan oleh sinar-x yang setelah melalui objek tiba pada film dan merubah susunan kristal perak halide menjadi butir perak berwarna hitam. Aksi sinar-x (kombinasi sinar-x dengan layar pendar) dan cahaya sangat dilipatgandakan oleh cairan pembangkit, tahap processing selanjutnya membuat citra menjadi permanen dan dapat diamati di depan viewer.
Tujuan membuat citra adalah agar citra dapat dilihat dengan jelas, untuk itu citra harus memiliki bentuk yang tegas diiringi oleh adanya kontras radiografi yang cukup. Kontras radiografi adalah perbedaan terang diantara berbagai bagian citra, bagaimana sesuai dengan perbedaan daya serap bagian tubuh terhadap sinar-x. Struktur dari objek tidak akan terlihat, bila nilai kontras disekitarnya tidak cukup. Ada tiga hal dari citra radiografi yang perlu dibedakan, yaitu :
1.      Bentuk jelas / tegas
2.      Detail / definition, menunjukan bagian kecil dari objek dapat dilihat (ketajaman)
3.      Kontras radiografi, menunjukan perbedaan terang (hitam/putih)
4.      Distorsi, perubahan bentuk dan ukuran pada citra radiografi
Ketajaman Citra Radiografi
Citra-radiografi merupakan bentuk bayangan; citra yang diperoleh sebagai akibat dari sinar x melalui tubuh, mirip dengan bayangan pada tembok bila melewatkan sinar matahari pada tubuh. Bayangan yang membentuk  citra radiografi haruslah dengan bentuk yang jelas dan tajam, dimana tingkat pengaburannya berkurang. Pada praktek bentuk bayangan sering diikuti oleh pengaburan, dimana tingkat pengaburan itu disebabkan oleh beberapa hal, seperti :
  • Faktor Geometrik; yang berhubungan dengan pembentukan citra (misal : ukuran, jarak)
  • Faktor Goyang; yang berhubungan dengan penderita (pasien) dan alat
  • Faktor Fotografi atau intrinsik; yang berhubungan dengan bahan perekam citra.
o   Layar Pendar = terdiri dari kristal fosfor yang bila terkena sinar-x akan memendarkan cahaya, ini menimbulkan ketidaktajaman bentuk
o   Efek Parallax = pengamatan dari jarak tertentu dengan sudut yang berbeda
o Emulsi film = ”iradiation”, yakni menyebar/melebarnya cahaya yang tiba pada film, menyebabkan ketidaktajaman bentuk citra
Ketajaman Radiografi dimaksudkan untuk membedakan detail dari struktur yang dapat terlihat  pada citra radiografi. Karena itu, semu faktor mengatur kontras (perbedaan densitas) juga mempengaruhi ketajaman. Faktor ini bersifat obyektif  karena dapat diukur. Ketajaman dapatr juga dipengaruhi oleh faktor yang tidak obyektif yang disebut faktor subyektif, sangat bervariasi  tidak dapat diukur, termasuk hal yang berada di luar. Citra seperti kondisi dari “viewer” boleh dikatakan bahwa ketajaman yang dimaksud adalah kualitas visual yang lebih bersifat subyektif.
Faktor yang Mempengaruhi Ketajaman
a)      Faktor Citra Radiografi, meliputi :
-          Ketajaman dan kontras obyektif
-          Tingakat eksposi
Bila citra radiografi berbatas/berbentuk jelas, benda densitas masih dapat diamati, walau tingkat densitasnya sedikit (ketajaman baik walau dengan kontras yang sangat rendah). Jika citra radiografi dengan perbedaan densitas tinggi, struktur masih dapat terlihat jelas walau dengan batas yang tidak begitu tegas (ketajaman masih dapat dilihat, walaupun detail struktur tidak optimal).
Pada praktek radiografi, hal itu dapat kita temukan pada x-foto abdomen untuk melihat struktur dari janin, terlihat adanya perbedaan densitas yang kecil, namun bentuk janin terlihat jelas. Juga pada x-foto abdomen anak kecil tertelan uang logam terlihat adanya perbedaan densitas yang tinggi, ketajaman uang logam masih terlihat walau bentuknya tidak tegas (uang logam bergerak). Dengan demikian, batas yang tegas dari citra radiografi tidak hanya tergantung oleh ketajaman/kontras tetapi dari keduanya. Tingkat eksposi signifikan merubah kontras yang terlihat pada citra radiografi. Bila terjadi overexposure maka densitas pada seluruh bidang film juga meningkat, tetapi “kontras obyektif” (overexposure tidak berlebihan) tidak berubah, karena perbedaan melewatkan cahaya dari seluruh bidang x-foto tetap ada dan dapat diukur. Karena densitas yang demikian besar, mata sudah tidak dapat lagi melihat, karena tidak ada lagi cahaya dari viewer yang dapat melaluinya. Oleh karena itu pemirsa mengatakan bahwa kontras visual berkurang karena overexposure, jadi kontras visual ini bersifat subyektif tidak dapat diukur. Pada underex posure dimana densitasnya sangat minim menyebabkan kontras obyektif dan subyektif menjadi kurang.
b)     Faktor Viewer/Illuiminator (alat baca x-foto)
Hubungannya terhadap detail (devinition) adalah dengan contras subyektif faktor viewer dapat dilihat dari segi:
-          Yang  berhubungan dengan kualitas penerangan
-          Yang berhubungan dengan penglihatan pemirsa
  • Penerangan
Penerangan lampu viewer dapat dengan berbagai warna, intensitas, dan homogenitas; diluminator yang moderen denfgan dilengkapi dengan beberapa lampu TL yang memancarkan cahaya biru cerah dan homogen, dapat meningkatkan nilai kontras “kontras-fisual”. X-foto yang overexposure dengan menaikan intensitas penerangan illuminator akan meningkatkan kontras subyektif, sedangkan  yang underexposure intensitas cahaya diturunkan hingga kontras visual dapat tercapai. Pada umumnya viewer dilengkapi dengan alat pengatur terangnya cahaya, sesuai dengan keadaan citra radiografi yang sedang ditayangkan. Ruang baca x-foto sebaiknya ruangan redup (watt rendah) sehingga cahaya yang keluar dari viewer dapat diamati dengan baik.
  • Penglihatan Pengamat
Kontras citra radiografi oleh mata kelihatnaya dipengartuhi oleh tingkat penerangan yang diadaptasi, dan oleh silaunya cahaya viewer. Mata yang beradaptasi dengan cahaya terang tidak dapat mengamati perbedaan densitas pada tingkat gelap, dan detail. Juga bila viewer dengan x-foto densitas sedikit, melewatkan cahaya yang menyilaukan, menyebabkan kegagalan untuk melihat detail struktur. Untuk mencegah cahaya yang menyilaukan, viewer dilengkapi dengan semacam diagfragma yang dapat membatasi luas penerangan. Spot light yang berada di luar viewer gunanya untuk mengamati bagian tertentu dari film yang densitasnya gelap.
Kontras Radiografi
Kontras radiografi memiliki unsur yang berbeda :
  • Kontras Objektif, perbedaan kehitaman ada seluruh bagian citra yang dapat dilihat & dinyatakan dengan angka. Adapun penyebabnya :
    • Faktor radiasi
      • Kualitas sinar primer 
      • Sinar hambur / scatter
    • Faktor film
    • Faktor processing
      • Jenis & susunan bahan pembangkit 
      • Waktu & suhu pembangkitkan 
      • Lemahnya cairan pembangkit 
      • Agitasi film
      • Reducer
  • Kontras Subjektif, yaitu perbedaan terang di antara bagian film, jadi tidak dapat diukur, tergantung dari pemirsa/pengamat
Distorsi Citra Radiografi  
Merupakan perbandingan yang salah dari struktur yang direkam, bentuk serta hubungan dengan struktur lainnya kurang betul. Hasil yang benar diperoleh bila garis tentgah struktur yang akan di x-foto berada sejajar dengan film yang tegak lurus dengan pusat sinar-x. Hal ini sering terlihat pada x-ray foto gigi, bila hal ini terjadi, maka x-ray foto gigi akan terlihat bertumpuk satu sama lain, dapat lebih panjang atau lebih pendek
Hal-hal yang mempengaruhi gambaran radiografi
1 Latar Belakang

Sebagai tenaga paramedis, seorang radiographer hendaknya dapat menyajikan gambar radiografi (foto rontgen) yang berkualitas, terutama saat pelayanan di rumah sakit - rumah sakit, atau laboratorium klinik swasta yang sudah banyak tersebar di masyarakat.Gambaran radiografi merupakan hal penting dalam menunjang praktek radiografer sehari-hari. Setiap radiografer pasti menginginkan gambar radiografi atau foto rontgen dengan kualitas yang semaksimal mungkin dalam rangka menegakkan diagnosis.
Radiographer harus dapat memberikan gambar radiografi (foto rontgen) yang berkualitas, baik detail mutu maupun karakteristik gambar radiografi (meliputi detail daripada citra radiografi tersebut). Apabila citra radiografi yang dihasilkan terlalu rendah, dapat menyebabkan tingkat diagnostik yang rendah pula, dan apabila kualitas diagnosa yang dihasilkan rendah, pasti akan menimbulkan kesulitan dalam menentukan tahap perawatan berikutnya terkait kasus yang dialami pasien.Secara umum, salah satu faktor penentu tingginya kualitas gambar radiografi yang dihasilkan adalah keahlian dan pengalaman seorang radiografer dalam melakukan pemeriksaan radiografi serta kualitas dari equipment atau perlengkapan pemeriksaan radiografi. Sebagai SDM paramedik yang berkualitas, seorang radiografer sebaiknya memperhatikan faktor penyebab perubahan bentuk yang terjadi pada citra radiografi.
 
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian di atas dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut :

1. Faktor apa saja yang menyebabkan perubahan bentuk yang terjadi pada gambaran radiografi.
2. Bagaimana kriteri gambaran radiografi yang baik, sehingga tidak terjadi perubahan bentuk pada gambar radiografi.


1.3. Tujuan

1. Untuk menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan perubahan bentuk yang terjadi pada gambar radiografi
2. Mahasiswa dapat mengamalkan cara-cara untuk mendapatkan hasil gambaran radiograf yang baik pada saat nantinya mahasiswa terjun di dunia kerja.
3. Mengetahui prinsip-prinsip dasar di dalam menghasilkan gambaran radiografi yang baik di dalam tujuannya untuk menegakan diagnosa.
4. Memberikan pengetahuan tentang faktor penyebab perubahan bentuk gambar radiografi.
5. Mahasiswa dapat mengevaluasi gambaran radiografi yang dihasilkan dalam pemeriksaan radiografi, khususnya sinar-X dan mengetahui cara mengatasi masalah-masalah yang terjadi.
 
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah :
Memberikan gambaran mengenai faktor-faktor yang sering kali mengakibatkan perubahan benuk pada citra radiografi.Sehingga mahasiswa dapat mengetahui gambaran mengenai citra radiografi yang baik dan benar dalam pemeriksaan radiografi.
 
HAL-HAL YANG MEMPENGARUHI GAMBARAN RADIOGRAFI


A. Gambaran Radiografi
Telah diketahui bahwa terbentuknya gambaran radiografi adalah disebabkan oleh sinar-x yang setelah melalui objek tiba pada film dan merubah susunan kristal perak halide menjadi butir perak berwarna hitam. Aksi sinar-x (kombinasi sinar-x dengan layar pendar) dan cahaya sangat dilipatgandakan oleh cairan pembangkit, tahap processing selanjutnya membuat gambaran menjadi permanen dan dapat diamati di depan viewer


Agar gambaran radiografi dapat dilihat dengan jelas,maka gambaran harus memiliki bentuk yang tegas diiringi oleh adanya kontras radiografi yang cukup. Kontras radiografi adalah perbedaan terang diantara berbagai bagian citra, bagaimana sesuai dengan perbedaan daya serap bagian tubuh terhadap sinar-x. Struktur dari objek tidak akan terlihat, bila nilai kontras disekitarnya tidak cukup.
Ada tiga hal dari citra radiografi yang perlu dibedakan, yaitu :
 
Bentuk jelas / tegasü
 Detail / definition, menunjukan bagian kecil dari objek dapat dilihatü (ketajaman),Obyek di dalam tubuh terdiri dari berbagai macam ukuran. Semakin kecil ukuran obyek maka semakin detil gambar anatomi yang harus didapatkan.Sebagai contoh, bila ukuran obyek besar maka detil yang dihasilkan dapat diamati (tidak mengalami kekaburan), begitu pula bila ukuran obyek diperkecil, maka detil yang dihasilkan juga dapat diamati (tidak mengalami kekaburan). Jadi ketika tidak terjadi kekaburan maka baik obyek yang besar maupun yang kecil dapat kita amati. Sekarang bagaimana kalau obyek tersebut kita kaburkan?Kekaburan mempunyai batas untuk mampu dilihat pada bayangan yang kecil. Sehingga kekaburan itu mengakibatkan keterbatasan penglihatan detil gambar.
Ada tiga pengaruh dari kekaburan, yaitu:
 Kekaburan mengakibatkan penurunan kemampuan untuk memperlihatkan detil§ anatomi obyek. Padahal hal tersebut sangat penting dalam penggambaran citra medik.
 Kekaburan menurunkan nilai ketajaman (sharpness) struktur dan obyek§ citra medik. Sehingga ketidaktajaman (unsharpness) sering digunakan sebagai pengganti istilah kekaburan (blurring).
Kekaburan menurunkan karakteristik citra medik yang disebut resolusi bagian (spatial resolution). Resolusi adalah pengaruh dari kekaburan yang dapat diukur dengan mudah dan digunakan untuk mengevaluasi dan menentukan karakteristik kekaburan dari system dan komponen citra medik. Resolusi digambarkan sebagai banyaknya jumlah pasang garis (LP) yang tampak dalam setiap satuan mm. Menaikkan nilai LP/mm biasanya berhubungan dengan menaikkan detil citra medik. Oleh sebab itu resolusi bagian yang tinggi (baik) menandakan kenampakan (visibility) detil anatomi yang akurat.  Kontras radiografi, menunjukan perbedaan terang (hitam/putih)Kontrasü radiografi memiliki 2 unsur yang berbeda yaitu, kontras Objektif, perbedaan kehitaman ada seluruh bagian citra yang dapat dilihat & dinyatakan dengan angka.Dan kontras Subjektif, yaitu perbedaan terang di antara bagian film, jadi tidak dapat diukur, tergantung dari pengamat  Distorsi, merupakan perbandingan yang salah dari struktur yangü direkam, bentuk serta hubungan dengan struktur lainnya kurang betul.Hasil yang benar diperoleh bila garis tentgah struktur yang akan di x-foto berada sejajar dengan film yang tegak lurus dengan pusat sinar-x.Hal ini sering terlihat pada x-ray foto gigi, bila hal ini terjadi, maka x-ray foto gigi akan terlihat bertumpuk satu sama lain, dapat lebih panjang atau lebih pendek.
 
 B. Pembentukan Gambar Radiografi


Telah diketahui bahwa terbentuknya gambaran radiografi adalah disebabkan oleh sinar-x yang setelah melalui objek tiba pada film dan merubah susunan kristal perak halide menjadi butir perak berwarna hitam. Aksi sinar-x (kombinasi sinar-x dengan layar pendar) dan cahaya sangat dilipatgandakan oleh cairan pembangkit, tahap processing selanjutnya membuat gambaran menjadi permanen dan dapat diamati di depan viewer.
Salah satu dari faktor penting sinar-x adalah bahwa sinar-x dapat menembus bahan. Tetapi hanya yang benar-benar sinar-x saja yang mampu menembus objek yang dikenainya dan sebagian yang lain akan diserap. Sinar-x yang menembus itulah yang mampu membentuk gambaran atau bayanga radiografi.
Besarnya penyerapan sinar-x oleh suatu bahan tergantung tiga faktor:
1. Panjang gelombang sinar-X
2. Susunan objek yang terdapat pada alur berkas sinar-X.
3. Ketebalan dan kerapatan objek.
Setelah sinar-x yang keluar dari tabung mengenai dan menembus obyek yang akan difoto. Bagian yang mudah ditembusi sinar x (seperti otot, lemak, dan jaringan lunak) meneruskan banyak sinar x sehingga film menjadi hitam. Sedangkan bagian yang sulit ditembus sinar x (seperti tulang) dapat menahan seluruh atau sebagian besar sinar x akibatnya tidak ada atau sedikit sinar x yang keluar sehingga pada film berwarna putih. Bagian yang sulit ditembus sinar x mengalami ateonasi yaitu berkurangnya energi yang menembus sinar x, yang tergantung pada nomor atom, jenis obyek, dan ketebalan. Adapun bagian tubuh yang mudah ditembus sinar x disebut Radio-lucen yang menyebabkan warna hitam pada film. Sedangkan bagian yang sulit ditembus sinar x disebut Radio-opaque sehingga film berwarna putih.
Hubungan antara penyerapan sinar-x dengan ketebalan adalah sederhana yaitu unsur yang mempunyai lempengan yang tebal dapat menyerap radiasi lebih banyak dibanding lempengan yang tipis pada satu unsur yang sama. Kerapatan/kepadatan suatu unsur yang sama akan juga mempunyai kesamaan efek, contoh 2,5 cm air akan menyerap sinar-x lebih banyak dibanding 2,5 cm es karena berat timbangan es akan berkurang 2,5 cm per kubik disbanding air.Mengingat pemeriksaan kesehatan yang menggunakan sinar-x, satu hal yang harus dipahami bahwa tubuh manusia mempunyai susunan yang kompleks yang tidak hanya mempunyai perbedaan pada tingkat kepadatan saja tetapi juga mempunyai perbedaan unsur pembentuk.
Hal ini menyebabkan terjadinya perbedaan tingkat penyerapan sinar-x. Yaitu, tulang lebih banyak menyerap sinar-x dibanding otot/daging; dan otot/daging lebih banyak menyerap dibanding udara (paru-paru). Lebih jauh lagi pada struktur organ yang sakit akan terjadi perbedaan penyerapan sinar-x dibanding dengan penyerapan oleh daging dan tulang yang normal. Umur pasien juga mempengaruhi penyerapan, contoh pada umur yang lebih tua tulang-tulang sudah kekurangan kalsium dan akan mengurangi penyerapan sinar-x dibanding tulang-tulang di usia yang lebih muda.
 
C. Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Gambaran Radiografi
1. Pengaruh Milliampere (mA)
Peningkatan mA akan menambah intensitas sinar-x, dan penurunan mA akan mengurangi intensitas. Sehingga semua intensitas sinar-x atau derajat terang/brightness akan bertambah sesuai dengan peningkatan intensitas radiasi sinar-x di titik fokus. Oleh sebab itu, derajat terang dapat diatur dengan mengubah mA. Perlu juga dipahami bahwa intensitas sinar-x yang bervariasi akan terus membawa hubungan yang sama antara satu dengan yang lainnya.
2. Pengaruh Jarak
Dalam proses pemotretan sinar x, terdapat pengaturan jarak pemotretan yang meliputi :  jarak antara fokus-film (Focus Film Distance disingkat FFD), disebut juga SID (Source to Image Reseptor Distance) jarak antara film-objek (Film Object Distance disingkat FOD)ü


Jarak antara obyek-fokus (Object Focus Distance), disebu juga SSD (Source to Skin Distance)ü
Intensitas sinar-x dari suatu pola bisa diatur menjadi sama dengan cara merubah semua hal, bukan dalam hal-hal yang menyangkut kelistrikan, tapi dengan menggerakkan tabung mendekati atau menjauhi objek. Dengan kata lain, jarak tabung ke objek mempengaruhi intensitas gambaran.Hal ini dapat dibuktikan dengan demontrasi yang sederhana. Tanpa penerangan lain dalam ruangan, pindahkan lampu yang menyala mendekati kertas bercetak. Anda akan melihat bahwa semakin dekat cahaya ke buku, makin terang halaman itu terkena cahaya. Hal yang sama juga berlaku pada sinar-x, pada saat jarak objek ke sumber radiasi dikurangi, intensitas sinar-x pada objek meningkat; pada saat jaraknya ditambah intensitas radiasi pada objek berkurang. Semua ini merupakan kesimpulan dari faktor bahwa sinar-x dan cahaya merambat dalam pancaran garis lurus yang melebar.
Perubahan jarak hampir sama dengan perubahan mA dalam hal efeknya terhadap semua intensitas gambaran. Terhadap banyaknya perubahan intensitas gambaran keseluruhan bila mA atau jarak diubah adalah merupakan suatu kaidah hitungan aritmetika sederhana.
 
3. Pengaruh Kilovolt (kV)
Perubahan kV menyebabkan beberapa pengaruh. Pertama, perubahan kV menghasilkan perubahan pada daya tembus sinar-x dan juga total intensitas berkas sinar-x akan berubah. Hal ini terjadi dengan tanpa perubahan pada arus tabung. Variasi kv pada teknik permeriksaan adalah salah satu yang biasa digunakan untuk proyeksi tertentu tergantung pada ukuran ketebalan badan.Sistem teknik yang menggunakan variasi kV memiliki keuntungan yang menjanjikan dalam variasi ekspose pada ketebalan badan yang berbeda-beda. Kenaikan kilovoltage yang terus meningkat dapat mengurangi kontras pada radiografi.
Faktor Citra Radiografi, meliputi :
- Ketajaman dan kontras obyektif
- Tingkat eksposi
Bila citra radiografi berbatas/berbentuk jelas, benda densitas masih dapat diamati, walau tingkat densitasnya sedikit (ketajaman baik walau dengan kontras yang sangat rendah). Jika citra radiografi dengan perbedaan densitas tinggi, struktur masih dapat terlihat jelas walau dengan batas yang tidak begitu tegas (ketajaman masih dapat dilihat, walaupun detail struktur tidak optimal).
Pada praktek radiografi, hal itu dapat kita temukan pada x-foto abdomen untuk melihat struktur dari janin, terlihat adanya perbedaan densitas yang kecil, namun bentuk janin terlihat jelas. Juga pada x-foto abdomen anak kecil tertelan uang logam terlihat adanya perbedaan densitas yang tinggi, ketajaman uang logam masih terlihat walau bentuknya tidak tegas (uang logam bergerak). Dengan demikian, batas yang tegas dari citra radiografi tidak hanya tergantung oleh ketajaman/kontras tetapi dari keduanya. Tingkat eksposi signifikan merubah kontras yang terlihat pada citra radiografi. Bila terjadi overexposure maka densitas pada seluruh bidang film juga meningkat, tetapi “kontras obyektif” (overexposure tidak berlebihan) tidak berubah, karena perbedaan melewatkan cahaya dari seluruh bidang x-foto tetap ada dan dapat diukur. Karena densitas yang demikian besar, mata sudah tidak dapat lagi melihat, karena tidak ada lagi cahaya dari viewer yang dapat melaluinya. Oleh karena itu pemirsa mengatakan bahwa kontras visual berkurang karena overexposure, jadi kontras visual ini bersifat subyektif tidak dapat diukur. Pada underex posure dimana densitasnya sangat minim menyebabkan kontras obyektif dan subyektif menjadi kurang.
 
D. CONTOH GAMBARAN RADIOGRAFI
Gambaran radiografi pada thorax:
KESIMPULAN

Dalam mengetahui faktor gambaran radiografi,maka kita harus mengetahui Intensitas keseluruhan dari satu gambaran yang dipengaruhi oleh tiga faktor, mA, jarak dan kV. Bila mA atau jarak digunakan sebagai faktor pengontrol intensitas maka perubahan kontras subyek (bahan) tidak terjadi. Tetapi bila kV digunakan sebagai faktor pengontrol intensitas maka terjadinya perubahan kontras subyek selalu muncul dalam hubungannya dengan perubahan intensitas.Hubungan diantara intensitas sinar-x pada daerah yang berbeda gambarannya didefinisikan sebagai kontras subjek.Kontras subjek tergantung pada sifat subjek, kualitas radiasi yang digunakan, intensitas dan penyebaran radiasi hambur, tetapi tidak tergantung terhadap waktu, mA, jarak dan jenis film yang digunakan.